Minggu, 10 Juni 2012

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Suram & Rizzo (1979) menyebutkan ABK adalah :
"Anak yang memiliki perbedaan dalam beberapa dimensi penting dari fungsi kemanusiannya. Mereka adalah yang secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal sehingga memerlukan penganan yang terlatih dari tenaga profesional."
 Mangusnong (2009) menyebutkan ABK sebagai :
"Anak yang membutuhkan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebnayakan anak lainnya."
Perbedaannya meliputi : ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, fisik dan neuro maskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, ataupun kombinasi 2 atau lebih dari berbagai hal tersebut.
Berbagai istilah yang berkaitan dengan ABK :
Disability, menunjukkan berkurang atau hilangnya fungsi organ atau bagian tubuh tertentu. Biasanya istilah ini digunakan secara bergantian dengan "impairment".
Handicap, merupakan masalah atau dampak dari kerusakan (disability atau impairment) yang dialami oleh individu ketika berinteraksi dengan lingkungan.
At risk, anak yang meskipun tidak teridentifikasi memiliki kerusakan namun berpeluang mengalami hambatan atau masalah tertentu.
Siswa berkebutuhan khusus adalah mereka yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan orang lainnya.

Pendidikan khusus/luar biasa adalah :
"Instruksi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari siswa berkebutuhan khusus."
Tujuan utama dari pendidikan khusus adalah :
"menentukan dan menitikberatkan kemampuan siswa berkebutuhan khusus"
Tujuan pendidikan khusus :

  1. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai pribadi
  2. Mengembangkan kehidupan anak didik sebagai anggota masyarakat
  3. Mmempersiapkan siswa untuk dapat memiliki keterampilan sebagai bekal memasuki dunia kerja
  4. Mmepersiapkan anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan
Model penyelenggaraan pendidikan khusus :
A. Segregasi

  • Anak berkebutuhan khusus belajar dalam lingkungan yang berisi anak-anaka berkebutuhan khusus juga
  • Jenisnya dapat berupa TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB
  • Kelemahan : Sering fokus pada apa yang tidak dapat dilakukan anak sehingga dapat menimbulkan masalah konsep diri. Anak cenderung terisolasi sehingga kehilangan kesempatan untuk berin teraksi dengan teman sebaya dan belajar tentang perilaku dan keterampilan yang tepat.
B. Integrasi

  • Anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anak=anak normal disekolah reguler
  • Bentuknya bermacam-macam :
  1. Integrasi dalam acara-acara tertentu
  2. Berada dalam satu kompleks sekolah umum dengan gedung & jadwal yang berbeda
  3. Memiliki jadwal istirahat yang sama tetapi tidak ada kegiatan bersama
  4. Anak belajar di kelas khusus dulu
C. Inklusi

  • Staub dan Peck (1995) mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh dikelas reguler
  • Sapon-Shevin (dalam O'Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusif sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani disekolah-sekolah terdekat, dikelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orangtua, dan masyarakat sekitarnya.
Diagnosis atau Pelabelan Keluarbiasaan
  • Perlu memperhatikan : sikap professional dari orang yang melakukan identifikiasi, ada krieria yang jelas, dan tidak hanya fokus pada klasifikasi tetapi juga pada masalah dan pengananan yang tepat
  • Dampak positif : Memungkinkan anak mendapat perlakuan dan penerimaan yang tepat dari lingkungan
  • Dampak negatif : dapat membuat lingkungan memandang anak secara negatif, begitu juga anak memandang dirinya sendiri secara negatif.
Prevalensi ALB :
  • Menurut PBB, hingga tahun 2000 terdapat sekitar 500 juta orang cacat, sekitar 80 % diantaranya hidup di negara berkembang.
Statistik PLB
  • Tahun 1999/2000 hanya 37.460 anak cacat yang telah mendapat pelayanan pendidikan khusus, sedangkan anak yag berbakat jumlahnya jauh lebih sedikit. Semuanya ditampung dalam 36 PLB negeri & 832 PLB swasta
Bentuk dan jenis PALB
  • Bentuk pendidikan khusus :
  1. SLB (PP No. 27 Tahun 1991) terdiri dari :
          - TKLB
          - SDLB
          - SMPLB
          - SMALB
    
     2. Sekolah Inklusi (UU Sisdiknas 2003)

  • Jenis SLB
  1. SLB A : untuk tuna netra
          Persyaratan : keterangan dari dokter mata, umur sebaiknya 3-7 tahun dan tidak lebih dari 14 tahun
     
     2.  SLB B : untuk tuna rungu

          Persyaratan : keterangan dari dokter THT, umur sebaiknya 5-11 tahun

     3. SLB C : untuk tuna grahita IQ 50-75
       
         C1 : untuk tuna grahita IQ 25-50

         Persyaratan : keterangan IQ dari psikolog, keterangan dari sekolah terakhir dan umur sebaiknya, 5,5- 
        11 tahun

     4. SLB D : untuk tuna daksa dengan IQ normal

         D1 : untuk tuna daksa dengan IQ < normal

         Persyaratan : keterangan dari dokter umum, ortopedi dan syaraf, keterangan psikolog, umur 3-9 tahun

    5. SLB E : untuk tuna laras

        Persyaratan : anak mengalami kesulitan menyesuaikan diri atau pernah melakukan kejahatan, umur
        antara 6-18 tahun

   6. SLB G : untuk tuna ganda

       Persyaratan : keterangan dari dokter dan psikolog

 
 
 
 
 

Andragogi

1. Pengertian dan beberapa asumsi dasar andragogi
2. Tujuan dan pertimbangan filosofis andragogi

Pengertian dan beberapa asumsi dasar POD

  • POD merupakan proses pendidikan menyeluruh bagi orang dewasa cacad maupun tidak cacad secara berkelanjutan
  • Orang dewasa dapat ditelusuri dari aspek giologis, psikologis dan sosiologi
Definisi POD
  • UNESCO menyatakan :
POD sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasi, apapun isi, tingkatan dan metodanya. Baik formal maupun tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, perguruan tinggi dan universitas serta latihan kerja yang membuat orang dianggap dewasa oleh masyarakat dalam mengembnagkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya dan mengakibatkan perubahan pada perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam perkembangan sosial, ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas.

Karakteristik POD
  • Orang dewasa telah memiliki lebih banyak pengalaman hidup
  • Orang dewasa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar
  • Orang dewasa telah memiliki banyak peranan dan tanggung jawab
  • Kurang percaya pada kemampuan diri untuk belajar kembali
  • Orang dewasa lebih beragam dari pada pemuda
  • Makna belajar bagi orang dewasa
Tujuan POD

Menurut Houle (1972 dalam Yusnadi, 200-), POD memiliki 5 orientasi :
  1. Memusatkan pada tujuan
  2. Memenuhi kebutuhan dan minat
  3. Menyerupai sekolah
  4. Menguatkan kepemimpinan
  5. Mengembangkan lembaga POD
  6. Meningkatkan informalitas
Sedangkan menurut Bergevin (-dalam Yusnadi, 200-), tujuan POD adalah :
  1. Membantu pelajar mencapai suatu tingkat kebahagiaan dan makna dalam kehidupan
  2. Membantu pelajar memahami diri sendiri, bakat dan keterbatasannya serta hubungan dengan orang lain
  3. Membantu orang dewasa mengenali dan memahami kebutuhan belajar seumur hidup
  4. Memberi kondisi dan kesempatan
  5. Memberikan jika dibutuhkan
Yusnadi menyimpulkan : tujuan POD adalah :
  1. Membantu orang-orang melakukan penyesuaian psikologi terhadap kondisi sosial dan dunia alamiah mereka dengan melengkapi aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap
  2. Melengkapi orang dewasa dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan guna menemukan dan memecahkan masalah yang mungkin mereka hadapi dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan memecahkan masalah dan tidak pada isi atau subjek matter
  3. Membantu orang-orang dewasa merubah kondisi sosial mereka
  4. Membantu orang-orang dewasa menjadi bebas, individu-individu otonom
Seorang manusia harus mempersembahkan dirinya kepada dunia dan kebenaran, tidak berarti bahwa ia harus kehilangan dirinya sendiri atau kehilangan kebebasannya

Paedagogi

Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran. Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
Etimologi
Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).
Kata yang berhubungan dengan pedagogi, yaitu pendidikan, sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut. Malcolm Knowles mengungkapkan istilah lain yang mirip dengan pedagogi yaitu andragogi, yang merujuk pada ilmu dan seni mendidik orang dewasa.


http://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi


SIMULASI MINI



Kelompok 7:

Islahati Batubara (11-008) 

A. Simulasi Paedagogi  

Paedagogi merupakan seni mengajar pada anak. Pengajaran berfokus pada teacher  center, dimana seorang guru lah yang menjadi sumber informasi pengajaran.  

Setting: Mengajarkan anak TK

Di suatu ruangan ada salah seorang guru yang sedang mengajarkan kepada anak muridnya tentang bagaimana membuat segi 4 dari sebuagh kertas, kemudian terjadilah dialog sebagai berikut ini:

Ibu  guru                    : selamat siang anak-anak
murid-muridnya        : siang ibu guru
ibu guru                     : nah sekarang kita akan belajar cara membuat segi 4 dari kertas 
                                      coba pegang kertasnya,lalu ikutin seperti yang ibu lakukan ya
murid-muridnya        : iya ibu guru

Nah disini ibu gurunya memberikan arahan kepada anak muridnya tentang bagaimana membuat segi 4 dari kertas, dimana si anak juga belum mengerti bagaimana pemecahan masalahnya jika disuruh membuat hal seperti itu.

B. Simulasi Andragogi

Andragogi merupakan seni mengajar yang diberikan pada orang dewasa. Pengajaran harus dibedakan dengan anak karena orang dewasa sudah memiliki pengalaman yang lebih kaya dari pada anak-anak. 

SettingTraining Motivasi

Suatu perusahaan melakukan training untuk mengetahui motivasi yang terjadi pada trainee nya, kemudian terjadilah dialog sebagai berikut ini:

Trainer           : selamat siang rekan-rekan sekalian, hari ini saya sebagai trainer
akan memberikan materi mengenai motivasi, baiklah sebelum
memulai materi saya terlebih dahulu akan menanyakan
makna dari motivasi tersebut kepada rekan-rekan sekalian. Sebelumnya
apa itu motivasi? Apakah ada yang sudah mengetahuinya?
Trainee           : saya (sambil mengacungkan tangan),motivasi adalah dorongan
yang terjadi didalam diri kita untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai
Trainer           : kamu pernah gak merasa termotivasi?
Trainee           : ya saya pernah yaitu seperti ini nih, saya merasa sangat
termotivasi untuk menjawab pertanyaan dari ibu tadi

C. Perbedaan Simulasi Paedagogi dan Andragogi

Pada simulasi Paedagogi informasi  sistem mengajarnya masih tergantung pada si anak. Sementara pada simulasi Andragogi,sistem belajarnya sudah mandiri.

Rabu, 06 Juni 2012

Tugas Individu Kwiksurveys


Survey Online

Nama   : Islahati Batubara
NIM    : 111301008

Dalam mata kuliah kuliah Psikologi Pendidikan tahun ajaran 2011/2012 saya mendapatkan tugas untuk membuat sebuah kuisioner online dengan judul yang berkaitan dengan fenomena pendidikan. Maka dalam kesempatan ini , saya memilih judul “Peran Teknologi dalam Metode Pembelajaran”. Dimana dalam survey ini terlibat mahasiswa psikologi usu angkatan 2011 sebagai responden dalam penelitian saya ini. Berikut data yang dapat saya sampaikan

Nama Responden

Lisdiana Sani Namora Harahap
Fania Felicia
Defi Chairunisa
sulistia putri
Edwin Mangatur Sirait
Merry Christine Sitorus
RIKA DAMAYANTI
Ayu Puspita
Novika Susi Lestari
Nita permata sari siregar
Nurfazrina
ajeng diah andhini
Desi M Maloky
Putri Azura Ulandari
Paskha Yohana
r
Dhara Puspita H
Atika Mentari Nataya Nst
WINDA LYDIA SARI
nita siregar
Oktavia Rizky Rosayanti Putri
Cynthia Marilyn Sitompul
SITI RIZKI KARTIKA
Dina Maharani
Rosliana Karolina
Grace Theresia Sihotang
darmayantie syahputri
Christyn Elisabeth Siagian
Safrida Liasna Tarigan
Andhika Satria
Liandra Khairunnisa
Cellia Elisabeth Saragih
Aisyah Huwaida S
RIZKI NUGROHO
oktorianta
Vilya Sutanto
Yunita
christine natalia tarigan
Tia Nahara Hendrati
Ratri Ps
Ratri Ps
Merinda Rika
Yohana Chrisela
Nissa Aztarid S
dwi kartika harahap
RESI
Puspa Aryani Tantri
Nurul Fadillah Siregar
muhammad habibie almy
wahyu habibie
ariansyah
Frans Ariadi Ginting
rica amelia
paras wantrika
irvine talenta
juniati siallagan
Edwin Mangatur Sirait



Data



Setuju
Tidak Setuju
Peran teknologi sangat besar pengaruhnya dalam media pembelajaran anda
98.25%
1.75%
Peran teknologi dapat mempermudah anda dalam memahami materi
94.74%
5.26%
Di fakultas ini, peran teknologi sudah tersedia dengan baik dalam sistem pengajaran
70.18%
29.82%
Para pengajar di fakultas ini, mampu menggunakan teknologi dengan baik
84.21%
15.79%
Peran teknologi dapat mempermudah dalam anda pencapaian prestasi
96.49%
3.51%


Dari hasil survey diatas, kita dapat lihat ternyata mahasiswa setuju bahwa teknologi memiliki peran yang sangat besar dalam media pembelajaran. Dapat kita lihat pada mereka (responden) mengaku bahwa peran teknologi sangat besar pengaruhnya dalam media pembelajaran sebesar 98,25 %. Walaupun ada juga sebagian dari mereka yang tidak setuju dengan ini sebesar 1,75 %. Dan para responden juga mengaku bahwa peran teknologi dapat mempermudah kita dalam memahami materi pembelajaran sebesar 94,74 %. Dan tak luput jua para responden pun mengaku bahwa peran teknologi dapat mempermudah mereka dalam pencapaian prestasi sebesar 96,49%.

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil survey saya ini adalah, bahwa peran teknologi dalam media pembelajaran itu sangat besar fungsinya. Apalagi di zaman sekarang yang canggih ini setiap individu harus bisa untuk melek terhadap teknologi agar kita tidak ketinggalan informasi terhadap apa-apa saja yang belom kita ketahui.   

Dalam perkuliahan menurut saya peran teknologi harus sudah diterapkan dalam metode pembelajaran. Agar kita tidak terlalu ketinggalan oleh zaman yang sudah canggih ini. J 

TESTIMONI

Awalnya saya merasa tugas ini sangat menyulitkan, namun setelah saya mempelajarainya hal ini membuat saya sangat tertarik dalam menyelesaikan tugas ini. Ini adalah awal yang baik untuk saya dalam membuat kuisioner online. Tugas ini menurut saya adalah pembelajaran yang sangat baik, agar nantinya pada saat saya ingin melakukan penelitian saya dapat dengan mudah mencari responden dengan kuisioner online ini. Terimakasih ibu atas tugas yang menarik ini Apabila terdapat kesalahan saya mohon maaf, karena ini adalah pertama kalinya saya membuat kuisioner online. J

Senin, 04 Juni 2012

Proyek Mini

PERAN TEKNOLOGI SEBAGAI MEDIA BELAJAR PADA SISWA/I SMP



          
            I. PENDAHULUAN


Teknologi adalah tema penting dalam pendidikan sehingga selalu dibahas dalam setiap kesempatan yang berkaitan dengan pendidikan. Siswa/i dewasa ini tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan di masa ketika orang tua dan kakek mereka masih menjadi pelajar. Revolusi teknologi adalah bagian dari masyarakat informasi di mana kita kini hidup. Dalam hal ini kami akan mengemukakan data yang telah kami kumpulkan mengenai manfaat teknologi sebagai media pembelajaran di tingkat SMP (sekolah menengah atas). Semakin berkembangnya teknologi yang ada pada saat ini akan mengubah perilaku belajar pelajar. Akan ada yang terkena bagian negative dan aka nada ke bagian positif. Tergantung bagaimana pelajjar itu memperlakukan teknologi itu secara baik dan mampu memanfaatkannya sebagai media pembelajaran.


II. LANDASAN TEORI
                Di dunia ini yang kini berorientasi teknologi, kompetensi orang semakin ditantang dan diperluas dengan cepat. Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama berberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban. Namun kini teknologi berubah secara dramatis. Perhatikan fakta bahwa pada 1983 hanya ada sekitar 50.000 komputer di sekolah-sekolah Amerika. Pada 2002, ada lebih dari 6 juta di setiap sekolah di Amerika. Kini sedikitnya punya satu computer di setiap sekolah. Arti Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat diapakai untuk menyiarkan program pendidikan.
            Berbicara mengenai penggunaan , aka ada dampak negative dan positif yang di berikan kepada pemakainya. Ada beberapa dampak positif yang diberikan oleh teknologi kepada penggunanya antara lain :
·         Teknologi dapat membantu menyampaikan informasi lebih cepat
·         Dengan teknologi dapat mengefesiensikan waktu dalam penngerjaan tugas
·      Dalam pengerjaan tugas dengan menggunakan teknologi akan mendapatkan hasil yang optimal dan pengerjaannya menjadi praktis
Itulah beberapa dampak positif yang bisa diterima, dan dibawah ini kami akan menyampaikan dampak negatifnya :
·         Teknologi dapat membuat pemakainya menjadi kecanduan dan melupakan lingkungan
·         Teknologi dapat menjerumuskan kepada hal-hal negative, karena teknologi memiliki segala informasi, jadi jika tidak ada pengawasan akan berbahaya bagi anak-anak.
Dengan melihat dampak positif dan negative di atas diharapkan kita bisa mengoptimalkan manfaat teknologi tersebut. Akan kemabali lagi kepada diri kita sendiri. Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada mulanya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.
            III.  ALAT DAN BAHAN
·         Kuisioner
·         Pulpen (reward)
·         Kamera
IV. ANALISA DATA
            Untuk mengumpulkan data dan memperoleh kesimpulan , kami menggunakan cara pembagian kuisioner kepada siswa/i SMP AL-AZHAR MEDAN. Rincian kuisioner dan subyek penelitian sebagai berikut :
1. Jumlah subyek sebanyak 15 orang siswa/i tingkat SMP.
2. Beberapa jenis pertanyaan yang dilampirkan pada kuisioner :
·       Guru lebih sering menggunakan in-focus sebagai media pembelajaran (setuju/tidak)
·      Di sekolah guru-guru sudah mengerti cara penggunaan teknologi computer secara baik (setuju/tidak)
·       Teknologi informasi dan komunikasi merupakan kurikulum yang wajib diajarkan kepada murid-murid agar tidak terjadi gagap teknologi (setuju/tidak).
         V. TIME TABLE



NO
URAIAN                                 
APRIL
MEI

MINGGU 
    I
    II
   III
  IV
    I
    II
    III
   IV
1.
MENENTUKAN TEMA
  

X





2.
PERENCANAAN


   
X




3.
PEMBAGIAN KUISIONER




X



4.
PENGUMPULAN DATA




X



5.
DISKUSI





   
X

6.
PENYELESAIAN







X 







         



           




         


         VI. KALKULASI BIAYA



  • Fotokopi Kuisioner  : Rp 3.000,-
  • Printing                   : Rp 5.000,-
  • Transport               : Rp 20.000,-
  • Jumlah                    : Rp 28.000,- 

VII.  LAPORAN
            
         Setelah dilakukan pemberian kuisioner, maka telah dapat kami simpulkan bahwa 80% dari siswa yang kami observasi telah merasakan penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Seperti penggunaan computer, in-focus, dan gadget yang bisa digunakan untuk penyelesaian tugas sekolah. Kemudian disamping teknologi tersebut , pembelajaran menggunakan teknologi juga di dorong oleh penggunaan internet. Untuk siswa/i tingkat SMP , mereka sudah bisa menjalankan internet dan bisa menyelesaikan tugas mereka dengan penggunaan internet tersebut. Dan dari hasil observasi tersebut, kami juga memperoleh hasil, menurut siswa/i guru-guru yang mengajar sudah menggunakan teknologi di dalamnya. Seperti untuk pemberian tugas , pengajaran. Hal seperti ini yang akan kita hadapi semakin zaman berkembang. Untuk membekali kepada zaman yang akan datang, maka harus dilakukan pelatihan menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari,terutama dalam pendidikan.


            VIII. EVALUASI
            
        Setelah dievaluasi, hasil penelitian sudah seperti apa yang direncanakan. Kami merencakan untuk pelaksanaan observasi hanya 2 hari. Dan itu sudah sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Kami tidak menggunakan surat izin, karena kami memberikan kuisioner diluar jam pelajaran di sekolah, jadi kami tidak membutuhkan surat izin fakultas. Hasil pengisian kuisioner juga berjalan dengan lancer dengan subyek nya. Mereka cukup baik dalam membantu proyek ini.


            IX.  TESTIMONI KELOMPOK

TESTIMONI RESI PRATIWI :

            Pada awalnya dengan diberikan nya tugas ini , saya memikirkan bahwa tugas ini akan sulit dan membutuhkan proses yang lama. Ternyata setelah dikerjakan tidak ada yang terlalu menghalangi kelompok kami untuk penyelesainnya. Semoga hasil yang didapat juga bisa menjelaskan isu mengenai peran teknologi sebagai media belajar di tingkat SMP . 

TESTIMONI LISDIANA SANI :

          Pada saat melakukan proyek mini ke-alzhar rasanya seru dan menyenangkan. Adik-adik SMP nya ramah dan baik, mereka dengan senang hati mengisi kwisioner kami dan mereka senang mendapatkan reward pulpen karna jadinya alat tulis mereka bertambah^^

TESTIMONI ISLAHATI BATUBARA :

          Pada saat saya diberikan tugas ini, awalnya saya sangat merasa terbebani dengan adanya tugas ini. Karena tugas ini memerlukan penelitian yang dalam fikiran saya adalah tugas ini akan serumit seperti mengerjakan skripsi. Namun setelah saya dan teman-teman mengerjakan tugas proyek mini , saya tidak merasa terbebani seperti awalnya. Karena pengerjaannya tidak serumit yang saya kira. Apalagi ditambah dengan adanya respon yang baik-baik dari adik-adik SMP Al-Azhar. Itu membuat saya dan teman-teman semakin semangat dalam mengerjakan proyek mini ini J

               X. POSTER